DARB Al-AHMAR memanas, suhu saat itu mencapai 37° C. Masjid milik wazir Dinasty Syi'ah Fatimiyah 1160 M masih gagah berdiri di kawasan tua yang menjadi pusat keramaian karena berdekatan dengan pasar yang sejak masa Fatimy dipusatkan untuk lalu lalang dan pintu utama kota. Prasasti terakhir milik Fatimiyah itu begitu penting bagi Khazanah Islam di Mesir yang letaknya berdampingan dengan pintu gerbang utama Zuwayla
Minggu, 29 Juli 2018
DARB Al-AHMAR memanas, suhu saat itu mencapai 37° C. Masjid milik wazir Dinasty Syi'ah Fatimiyah 1160 M masih gagah berdiri di kawasan tua yang menjadi pusat keramaian karena berdekatan dengan pasar yang sejak masa Fatimy dipusatkan untuk lalu lalang dan pintu utama kota. Prasasti terakhir milik Fatimiyah itu begitu penting bagi Khazanah Islam di Mesir yang letaknya berdampingan dengan pintu gerbang utama Zuwayla
Senin, 23 Juli 2018
Dusun lama pusat kairo lama mula-mula menjadi tempat lalu lalang penduduk yang menempati kairo wilayah tengah, bahkan daerah ini adalah sebuah pengakuan yang sudah terdapat dalam sejarah lama di kota ini, desa ini memang sangat tua, umurnya hampir sebanding dengan penamaan kota ini. Tahun 669 M adalah awal mula penamaan kota kairo yang nantinya disusul dengan berdirinya masjid al-Azhar yang terletak di jantung kota. Kira-kira setengah kilo ke arah barat, ada desa kuno yang masih padat penduduk hingga kini yang bernama darb al-Ahmar. Darb artinya jalan yang terdapat dalam lingkup wilayah desa, dan ahmar berarti merah
Minggu, 02 April 2017
Kairo di penghujung bulan maret mulai terasa panas, langit sedang cerah dan warna birunya begitu tampak. sangat berbeda dengan beberapa hari yang lalu, kanan kiri sudah seperti warna dabu. bahkan langit birunya lenyap berganti warna kekuningan saat seisi kairo dihujani debu. disebrang jalan kecil, masjid thala'i yang dindingnya sudah terlihat tua, tampak bersemayam kesepian, masjid era dinasty fatimi masih setia menemani gerbang selatan yang angkuh. sepanjang jalan, pejalan kaki sudah melepas jaket tebalnya, kairo sudah tidak sekejam bulan-bulan sebelumnya saat suhu berada di titik yang begitu dingin. Kawasan zuwayla setiap hari selalu padat dengan segala kesibukan di benak mereka, kecuali hari Ahad yang sudah disepakati para pedagang sebagai hari libur. sejauh mata memandang pedagang bak membanjiri kawasan ini yang konon sejak 50 tahun terakhir sudah dijadikan sebagai pasar induk khususnya pakaian wanita, padat penduduk berbelanja dari dimulai dari komplek qhuri atau orang mesir menyebutnya souq ghuriyyah hingga gerbang zuwayla. Gerbang raksasa ini tidak akan pernah sepi dijajaki penduduknya yang lalu lalang, terlihat gerobak penjual full yang berada di depan masjid megah garapan moayyad syaikh yang sedang sibuk dengan para pembeli, persis di samping pintu berlapis baja yang warnanya sudah ditelan usia, penjual lilin dengan raut wajah khas penduduk benteng tua masih termenung masam melihat sekelilingnya yang semakin lama pemandangan tersebut seperti warna debu jalanan.“wahai kawan! Jika engkau lihat gerbang zuwayla, niscaya engkau tahu seberapa megah bangunan itu. Pintu gerbang yang berhias bintang-kemintang; menyandang kemilau-Sirius bermahkota cincin-Saturnus. Jika fir’aun melihatnya ia tak lagi menginginkan bangunan-menjulangnya takan pula bertitih pada haman (wazir milik nabi musa a.s). Ali ibn Muhammad an-Naili”
Minggu, 01 November 2015

Angin Kairo sudah mulai berhembus kencang, akhir bulan Oktober adalah pergantian musim. Hawa panas sudah tidak lagi terasa, angin yang berasal dari laut kini menerpa tubuh kami bergantian. Sampai saya putuskan untuk memakai jaket ketika keluar rumah. Selepas sholat isya, kami putuskan untuk sekedar jalan-jalan menghirup udara malam di tempat yang biasa kami rasa menjadi tempat paling nyaman untuk sekedar minum kopi dan ngobrol ngalor ngidul hingga larut malam. Jalanan yang kami lewati sudah tidak asing lagi, gang fenomenal yang pernah menjadi cikal bakal peradaban islam di Mesir mampu membelalakan mata siapapun yang berkunjung. Orang-orang menyebutnya dengan julukan “Musium Terbuka”.

