
Angin Kairo sudah mulai berhembus kencang, akhir bulan Oktober adalah pergantian musim. Hawa panas sudah tidak lagi terasa, angin yang berasal dari laut kini menerpa tubuh kami bergantian. Sampai saya putuskan untuk memakai jaket ketika keluar rumah. Selepas sholat isya, kami putuskan untuk sekedar jalan-jalan menghirup udara malam di tempat yang biasa kami rasa menjadi tempat paling nyaman untuk sekedar minum kopi dan ngobrol ngalor ngidul hingga larut malam. Jalanan yang kami lewati sudah tidak asing lagi, gang fenomenal yang pernah menjadi cikal bakal peradaban islam di Mesir mampu membelalakan mata siapapun yang berkunjung. Orang-orang menyebutnya dengan julukan “Musium Terbuka”.

